Jumat, 29 Januari 2016

Rumus Ajaib dalam Komunikasi


Ada pertanyaan yang terus mengelitik perihal bagaimana cara mempertahankan percakapan agar kita tidak kehabisan bahan bicara? Mau bicara apa lagi kira-kira agar percakapan kita bisa terus berlangsung dengan aman? Kok bisa ya, tahu-tahu kita kehabisan bahan bicara terutama dengan orang yang baru saja di kenal?
Uniknya lagi, kita sudah berpikiran terbuka, menempatkan diri sebagai pribadi yang ramah dan sudah menerapkan pola pikir sebagai orang yang menyenangkan untuk berteman seperti saran dari Igor Ledochowski, tetapi jawaban yang kita terima dari orang yang kita ajak bicara itu hanya singkat-singkat saja. Bingung deh mau omong apalagi jadinya.
Ada yang bilang itu mah salah Anda sendiri kenapa bertanya terus? Sudah begitu pertanyaannya juga cuma pertanyaan yang hanya butuh jawaban ya/tidak. Sudah pasti, teman bicara Anda pun menjawabnya singkat-singkat saja ya/tidak.
Bagaimana percakapan mau mengalir kalau Anda bertanya cuma sekedar bertanya bagaimana kabar mereka. Setiap orang yang ditanya begitu, apakah mereka lagi sehat atau sakit, lagi senang atau lagi susah, biasanya hanya akan menjawab “baik”.
Kalau benar seperti itu adanya, berarti Andalah yang harus memperbaiki cara bertanya Anda. Hindari pertanyaan yang cuma membutuhkan jawaban-jawaban singkat agar Anda tidak kehabisan bahan.
Aduh, sudah banget. Sebenarnya ada tidak cara atau rumus ampuh yang bisa digunakan agar Anda bisa memulai dan menjaga percakapan dengan baik?
Rumusan yang selalu bisa Anda gunakan dimanapun. Anda mau berbicara dengan siapapun. Bicara dengan orang yang sudah dikenal ataupun orang yang baru saja Anda kenal.
Mau bicara di kampus, di kantor, di seminar atau dimanapun. Anda tetap bisa menggunakan formula tersebut.
Ada tidak ya?

Rumus Ajaib

Apa dan bagaimana rumusannya tersebut? Cukup Anda ingat rumus berikut ini saja:
Repetisi + Pernyataan Pribadi + Pertanyaan.
Bagaimana mengaplikasikannya?
Pada intinya, Anda mencoba melakukan repetisi atau pengulangan atas jawaban teman bicara Anda, kemudian dari jawaban tersebut Anda buat pernyataan pribadi lalu ajukan pertanyaan lagi. Ulangi lagi jawaban mereka, buat pernyataan pribadi lalu tanya lagi, begitu seterusnya.
Semua mengandalkan kemampuan mendengarkan aktif Anda. Pikiran Anda harus Aktif, tetapi tetap santai, alami dan tidak usah kaku. Anda tidak harus mengikuti urutan repetisi + pernyataan pribadi + pertanyaan. Anda bisa ganti-ganti urutannya.
Saya pernah mencoba rumus tersebut saat bertemu dengan seorang Partner Auditor Perusahaan tempat saya bekerja yang baru bertemu lagi setelah hampir setahun kami tidak pernah bertemu (katakan saja beliau Bapak T). Percakapan kami adalah sebagai berikut:
Saya : Halo Pak. Apa kabar? Anda datang sangat tepat waktu ni.
Bapak T: Kabar baik pak. Kabar bapak gimana?
Saya: Kabar baik juga pak. Lagi sibuk apa ni pak sekarang? (pertanyaan)
Bapak T: Iya ni pak, Masih ada beberapa klien audit juga. Jadi ya, tetap sibuk sampai sekarang.
Saya: Wah masih banyak kerjaan audit? (Repetisi). Kalau kita, baru saja selesai melakukan paparan publik pak. Maklum sudah tanggal segini bos-bos banyak yang sudah mau pada liburan, jadi baru kemarin kita selesai melakukan paparan publik (pernyataan pribadi). Kalau bapak tidak ada rencana liburan ni? (pertanyaan).
Bapak T: Tidak ada pak. Sibuk sudah menjelang akhir tahun ini.
Saya: Ya begitulah pak kalau jadi Auditor ya? (pernyataan pribadi). Sibuk terus menjelang akhir tahun (repetisi), Tapi apa emang setiap tahun begitu pak? (pertanyaan).
Anda lihat bahwa urutannya bisa saya balik-balik agar tidak kaku dan monoton. Mengalir saja. Kadang-kadang bertanya didepan, kemudian mengulang jawaban, bikin lagi pernyataan baru bertanya lagi. Begitu seterusnya.
Itu dengan orang yang sudah saya kenal. Dengan orang yang baru dikenal pun saya pernah coba pakai rumusan : repetisi + pernyataan pribadi + pertanyaan. Kebetulan pas saya selesai nge-gym ada orang di ruang ganti (katakan saja bung H). Orangnya baik dan terbuka untuk diajak bicara. Daripada diem-dieman mending saya tanyakan sesuatu dan memulai percakapan berikut:
Saya: Wah mas, rajin banget ni. Nga berenang?
Bung H: Tidak pak (singkat doang jawabannya)
Saya: Wah tidak berenang (repetisi), tetapi main alat dong ya? (pernyataan pribadi)
Bung H: Iya pak (singkat lagi)
Saya: Belajar dimana main alat fitness? (pertanyaan). Belajar sendiri atau baca-baca buku? (pertanyaan)
Bung H: Ya tanya-tanya saja pak. Dulu juga ada teman yang udah pada jago main alatnya. Saya tinggal tanya ke mereka. Cuma sayang, mereka sekarang udah pada tidak fitness di sini lagi.
Saya: Wah, dulu banyak ya (repetisi). Saya pernah baca tuh perihal Deddy Cobuzier OCD (pernyataan pribadi). Benar nga tuh mas kalau angkat beban harus yang paling berat yang kita mampu? (pertanyaan)
Bung H: Ya kalau saya si mulai hitungan sedikit dulu, baru kemudian tambahin hitungan dan bebannya. Ntar kalau sudah cape baru ganti alat lain.
Saya: Oh gitu mas, harus yang sedikit dulu baru ditambah lagi bebannya ya (repetisi). Ada minum suplemen nga? (pertanyaan). Biasanya kan ada tuh suplemen tambahan (pernyataan pribadi).
Begitulah seterusnya. Coba perhatikan kalau pertanyaan Anda sudah menyangkut sesuatu yang menarik minat teman bicara Anda, keahlian mereka atau hobi mereka, maka biasanya teman bicara Anda mulai bicara panjang lebar memberikan jawaban. Dan, kalau sudah begini ada saja ide percakapan yang akan muncul dengan sendirinya.
Kira-kira begitu para sahabat semua. Ingat dan gunakan rumus : repetisi + penyataan pribadi + pertanyaan agar percakapan Anda mengalir lancar. Aktifkan pendengaran, bayangkan setiap jawaban, bikin pernyataan dan mulai bertanya lagi.
Silahkan bila Anda pun mau mencobanya. Hasil akhir tidak usah dipikirkan. Mau berhasil apa tidak yang penting kita sudah berpikiran terbuka dengan orang lain. Semoga berkenan di hati.
Photo Credit by : Tio

Tips Berkomunikasi dengan Orang yang Baru Dikenal

  • Komunikasi merupakan media paling penting dalam berinteraksi dalam masyarakat. Dengan komunikasi kita dapat menyampaikan pendapat kita dan mengekspresikan segala perasaan kita kepada orang lain. Banyak orang sedih dan kecewa akan hidupnya karena mereka kesulitan mengekspresikan diri mereka dan memilih memendamnya sendiri seperti harta karun di dalam samudra. Biasanya kesulitan ini bisa terjadi karena kurangnya kemampuan komunikasi atau berbicara dari si penyampai pesan. Kemampuan komunikasi yang baik sangat diperlukan dalam sebuah lingkungan baru agar dapat terjalin suatu hubungan yang baik. Namun, jika seseorang kesulitan untuk menjalin hubungan dengan lingkungan barunya, maka dia akan merasa tidak nyaman untuk tinggal di lingkungan tersebut.
    Terkadang kita merasa bingung dan canggung saat berhadapan dengan orang yang baru kita kenal. Bagi sebagian orang yang profesinya mengharuskan dia untuk berhadapan dengan orang-orang baru, maka mereka harus melatih kemampuan berkomunikasinya supaya bisa terjalin hubungan yang baik pula. Berikut ini ada 8 tips cara terbaik berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal:
  • 1. Mulailah dari kata-kata sederhana atau pertanyaan sederhana

    Bertanyalah tentang hal-hal yang sederhana. Jangan terlalu serius, contohnya seperti: "Hari ini panas sekali ya!", "Jam berapa mas sekarang?", "Aduh, panjangnya antriannya!", dan sebagainya. Cara ini cukup efektif untuk memulai suatu percakapan setelah mendapat respon dari lawan bicara, baru lanjutkan percakapannya.
  • 2. Membuat dia membahas tentang dirinya

    Carilah topik yang sangat mereka kuasai, yaitu tentang diri mereka sendiri. Bertanyalah dengan pertanyaan seperti: "Rumah Anda di mana?", "Apa pekerjaan Anda?", "Anda berasal dari mana?", "Anda kuliah di mana?" Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat tepat sekali digunakan sebagai pembukaan percakapan yang baik. Dengan pertanyaan seperti itu akan membuat mereka tertarik untuk berbicara dengan Anda dan setelah itu jangan lupa untuk berkenalan dengan orang baru tersebut.
  • 3. Berikan pertanyaan yang memicu minat orang tersebut

    Buatlah pertanyaan yang mengarah pada minat mereka untuk berkomunikasi, seperti: "Saya punya kos-kosan di daerah Dieng dengan 10 kamar standar dan 3 kamar VIP." Segera beri tanggapan mengenai hal tersebut seperti: "Di manakah Dieng itu? Apakah dari sini masih jauh untuk ke kosan Anda? Siapa saja yang menyewa kos-kosan Anda? Apakah bapak punya pekerjaan lain selain punya kos-kosan?" Dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan membuat orang baru tersebut semakin tertarik untuk berbicara dengan Anda. Pada dasarnya, manusia cenderung ingin membanggakan diri mereka sendiri. Oleh karena itu, pertanyaan dengan topik diri mereka sendiri adalah topik yang tepat untuk dibahas. Sebagai manusia kita pasti juga ingin membanggakan dan membicarakan tentang diri kita sendiri, akan tetapi untuk situasi seperti ini lebih baik tahan ego Anda dulu.
  • 4. Perhatikan mereka dengan kontak mata yang lama

    Berikan kontak mata kepada mereka saat mereka berbicara kepada Anda. Hal tersebut manandakan bahwa Anda memperhatikan dan menyimak apa yang mereka bicarakan, tetapi ingat jangan terlalu berlebihan saat memandang mereka, karena itu justru dapat menyebabkan mereka merasa tidak nyaman dengan Anda.
  • 5. Menceritakan tentang diri Anda saat diminta

    Saat ini adalah saat yang paling tepat bagi Anda untuk menceritakan tentang diri Anda. Ceritakan tentang diri Anda, tetapi jangan terlalu berlebihan membuka jati diri Anda. Beri kesempatan pada orang tersebut bertanya tentang kehidupan Anda.
  • 6. Cari topik yang menarik atau yang sedang tren

    Saat keadaan mulai diam karena tidak adanya topik yang dibahas, coba Anda seaktif mungkin mencari bahan pembicaraan, mulai dari topik yang sedang hangat dibicarakan saat ini atau hal-hal lain yang berhubungan dengan pekerjaan atau studi yang dia jalani. Jangan membicarakan topik yang serius yang susah dimengerti oleh Anda dan orang tersebut.
  • 7. Hindari kata-kata yang menyinggung perasaan atau candaan yang tidak tepat

    Bercanda boleh saja, tetapi alangkah baiknya untuk situasi seperti ini kita tidak menyisipkan candaan sampai kita benar-benar mengetahui siapa orang itu. Dikhawatirkan candaan yang kurang tepat dapat menyinggung perasaan orang tersebut sehingga dapat menghambat proses komunikasi yang efektif.
  • 8. Mengajak ke hubungan pertemanan

    Dalam tahap ini kita dapat mengajak mereka ke hubungan lebih dari seorang yang baru kenal, tetapi sebagai teman dengan cara mengajak mereka bertemu lagi, contohnya coba ajak mereka untuk futsal, ke kedai kopi bersama-sama, mengajak ke konser musik, ke pameran baju dan lain-lain. Walaupun mungkin dia tidak mau menerimanya tetapi Anda telah berani dan serius untuk membina hubungan pertemanan yang baik dengannya. Hal itu akan membuat orang tersebut terkesan dan menghargai Anda.
Photo Credit : by Tio