Jumat, 01 Januari 2016

Retorika dan Seni Berbicara


A. PENDAHULUAN
Retorika adalah suatu gaya/seni berbicara baik yang dicapai berdasarkan bakat alami (talenta) dan keterampilan teknis. Dewasa ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik, yang dipergunakan dalam proses komunikasi antar manusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara secara lancar tampa jalan pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat dan mengesankan.
Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. Ber-retorika juga harus dapat dipertanggungjawabkan disertai pemilihan kata dan nada bicara yang sesuai dengan tujuan, ruang, waktu, situasi, dan siapa lawan bicara yang dihadapi.
Titik tolak retorika adalah berbicara. Berbicara berarti mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai suatu tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi atau memberi informasi). Berbicara adalah salah satu kemampuan khusus pada manusia. Bahasa dan pembicaraan ini muncul, ketika manusia mengucapkan dan menyampaikan pikirannya kepada manusia lain.
Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran , kesenian dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa percakapan atau bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata – kata yang tepat, benar dan mengesankan. Ini berarti orang harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif. jelas supaya mudah dimengerti; singkat untuk mengefektifkan waktu dan sebagai tanda kepintaran ; dan efektif karena apa gunanya berbicara kalau tidak membawa efek ? dalam konteks ini sebuah pepatah cina mengatakan ,”orang yang menembak banyak, belum tentu seorang penembak yang baik. Orang yang berbicara banyak tidak selalu berarti seorang yang pandai bicara.
Keterampilan dan kesanggupan untuk menguasai seni berbicara ini dapat dicapai dengan mencontoh para rektor atau tokoh-tokoh yang terkenal dengan mempelajari dan mempergunakan hukum – hukum retorika dan dengan melakukan latihan yang teratur. Dalam seni berbicara dituntut juga penguasaan bahan dan pengungkapan yang tepat melalui bahasa.
B. Pentingnya Seni Berbicara (Retorika)
Retorika dan Berbicara
Terkadang kita sering tidak sadar seberapa pentingkah berbicara dalam kehidupan kita. Banyak orang berbicara semaunya, seenaknya tanpa memikirkan apa isi dari pembicaraan mereka tersebut. Sebenarnya berbicara mempunyai artian mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi atau memberi motivasi). Tapi sering kali kita mengalami kesulitan dalam mengungkapakan maksud dan isi pikiran kita kepada orang lain. Bahkan sering pula maksud yang kita sampaikan berbeda dengan yang ditangkap oleh pendengar.
Oleh karena itu, berbicara sangatlah penting karena yang membedakan manusia dari hewan maupun makhluk lainnya adalah kesanggupan berbicara. Manusia adalah makhluk yang sanggup berkomunikasi lewat bahasa dan berbicara. Tetapi yang lebih mencirikan hakikat manusia sebagai manusia penuh adalah kepandaian dan keterampilan dalam berbicara. Pengetahuan bahasa saja belum cukup. Kebesaran dan kehebatan seseorang sebagai manusia juga ditentukan oleh kepandaiannya dalam berbahasa, oleh keterampilannya dalam mengungkapkan pikiran secara tepat dan meyakinkan. Seni keterampilan berbicara sering disebut dengan Retorika.
Quintilianus, seorang bapak ilmu retorika berkebangsaan Romawi mengatakan, “Hanya orang yang pandai bicara adalah sungguh-sungguh manusia.” Di dalam dunia musik ada lelucon yang berbunyi, “Bermain piano itu tidak sulit.Orang hanya menempatkan jari yang tepat, pada saat yang tepat, di atas tangga nada yang tepat.”
Lelucon dari dunia musik diatas juga dapat dikenakan ke dalam ilmu retorika : ”Berbicara itu sama sekali tidak sulit. Orang hanya harus mengucapkan kata-kata yang tepat, pada saat yang tepat, kepada pendengar yang tepat.Memang untuk terampil dalam berbicara tidaklah semudah itu.Untuk menjadi seorang yang pandai bicara, dibutuhkan latihan yang sistematis dan tekun. Sejarah sudah membuktikannya. Orang-orang kenamaan seperti : Demosthenes, Cicero, Napoleon Bonaparte, winston Churchill, Adolf Hitler, J.F Kennedy, Marthin Luther King adalah orang-orang yang menjadi retoris terkenal lewat latihan yang teratur, sistematis dan tekun.Lalu mengapa kita perlu mempelajari retorika? Sering orang mengatakan, ”Dia tahu banyak, hanya tidak dapat mengungkapkan dengan baik. Dia tidak dapat mengungkapkan pikirannya secara meyakinkan.” Sangatlah menyedihkan, apabila orang memiliki pengetahuan yang berguna, tetapi tidak dapat mengkomunikasikannya secara mengesankan dan meyakinkan kepada orang lain. Hal tersebut merupakan salah satu contoh mengapa retorika itu perlu.Jadi apakah sebenarnya retorika itu ? Retorika berarti kesenian untuk berbicara baik yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis Sekarang ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik , yang dipergunakan dalam proses komunikasi antarmanusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara lancar tanpa jalan pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemapuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat dan mengesankan.
Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian, dan kesanggupan berbicara.
Dalam bahasa percakapan atau bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan. Itu berarti kita harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif. Jelas supaya mudah dimengerti; singkat untuk mengefektifksn waktu dan sebagai tanda kepintaran; dan efektif karena apa gunanya kalau berbicara tidak membawa efek?Dalam konteks ini sebuah pepatah Cina mengatakan, ”Orang yang menembak banyak belum tentu seorang penembak yang baik, dan Orang yang berbicara banyak tidak selalu berarti seorang yang pandai bicara.”
C. Retorika Dalam keseharian
Berbicara atau bertutur merupakan kegiatan yang paling sering dilakukan orang dalam kehidupan bermasyarakat. Sebelum dikenal adanya tulisan, bertutur sudah digunakan sebagai alat komunikasi. Seiring perkembangan zaman, kegiatan bertutur memiliki peranan penting bagi kehidupan bermasyarakat dan berbudaya. Sering kita temui daerah dengan kebudayaan yang baik memiliki kebiasaan bertutur yang baik pula, sesuai dengan ungkapan ”bahasa menggambarkan budaya setempat”.
Berbicara menjadi suatu hal yang penting dalam keseharian. Berbicara dipergunakan untuk berkomunikasi, menyampaikan informasi, menyampaikan maksud, sampai digunakan untuk berdebat. Kecakapan dalam berbicara untuk menyampaikan suatu ide merupakan kecerdasan linguistik, bagian dari delapan kecerdasan yang disampaikan oleh Howard Gardner pada tahun 1983 dalam bukunya Frames of Mind. Kecerdasan ini pada dasarnya dimiliki oleh setiap manusia dengan kadar kemampuannya yang berbeda-beda. Untuk memiliki kemampuan ini ternyata bukanlah hal yang mudah. Banyak orang yang mampu merumuskan sebuah gagasan dengan baik, namun kesulitan dalam hal penyampaiannya. Dalam penyampaiannya pun harus jelas dan sistematis agar mudah dipahami oleh pendengar.
Dahulu kemampuan berbicara yang baik hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai status atau fungsi tertentu seperti kepala suku saat upacara adat, pemakaman, kelahiran, dan sebagainya. Penguasaan mantra, kata-kata bijak, dan nasehat yang diberikan kepada masyarakat menjadi kelebihan yang mereka miliki jika dibandingkan dengan orang lain. Kemampuan berbicara inilah yang membuat para kepala suku dihormati dan disegani oleh masyarakatnya.
Kemampuan berbicara ini juga berkembang di Yunani dan Roma dengan tokohnya seperti Socrates dan Aristoteles. Mereka menyebut kemampuan berbicara ini dengan retorika yang berasal dari bahasa Latin rhetorica yang berarti ’ilmu berbicara/bertutur’. Awalnya mereka menganggap ilmu ini untuk memenangkan suatu kasus. Namun, penggunaan retorika kini sudah bergeser pada ilmu yang mengajarkan tindak dan usaha bertutur untuk membina saling pengertian. Sesuai yang dikatakan oleh I Gusti Ngurah Oka.: “Retorika adalah ilmu yang mengajarkan tindak dan usaha yang efektif dalam persiapan, penataan dan penampilan tutur untuk membina saling pengertian dan kerja sama serta kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.”
D. Penerapan Retorika dalam keseharian
Dalam pembelajaran kemampuan berbahasa, kemampuan berbicara sering terabaikan karena yang ditekankan dan mendapat perhatian lebih ialah kemampuan menulis. Padahal tujuan utama pembelajaran bahasa ialah untuk berkomunikasi. Bukan hanya tulisan tetapi juga lisan. Oleh karena itu, diperlukan perhatian yang khusus untuk kemampuan berbicara. Diperlukan keseriusan dalam hal ini. Diperlukan strategi dan metode yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pada kurikulum kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) / MadrasyahTsanawiyah (MTs), salah satu Standar Kompetensi berbicara yaitu pidato, merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh siswa. Kompetensi Dasar yang harus dimiliki setelah proses pembelajaran adalah siswa mampu berpidato tanpa teks dengan menggunakan pelafalan, intonasi, nada, dan sikap yang tepat.
Dalam penerapannya, pembelajaran berpidato pada tingkat SMP ternyata belum memberikan hasil yang memuaskan. Siswa cenderung menjadi pribadi yang sulit berbicara di depan umum. Hal utama yang menjadi penyebab biasanya adalah faktor keragu-raguan atau keberanian dari siswa. Siswa khawatir berkata salah ketika berpidato. Bahan pembicaraan yang sudah dipersiapkan menjadi hilang ketika berada di depan orang banyak untuk berpidato. Dari sekian banyak siswa tentunya ada beberapa siswa yang mampu tampil dengan berani dan percaya diri. Hal ini karena adanya pembiasaan yang dilakukan karena siswa tersebut mempunyai pengalaman dalam berorganisasi yang menuntut mereka untuk sering berinteraksi dengan banyak orang. Keberanian dan percaya diri memang merupakan modal utama dalam berpidato, namun tidak cukup hanya kedua hal itu saja. Dalam berpidato, siswa dituntut mampu memilih kata dan menyusun kalimat dengan baik serta memahami faktor-faktor lain seperti pelafalan yang baik, intonasi, dan sikap yang tepat.
Metode yang paling sering digunakan guru dalam pembelajaran berpidato adalah guru menjelaskan faktor-faktor yang dinilai dalam berpidato. Kemudian siswa diminta untuk berpidato. Setelah itu, performa siswa tersebut dievaluasi secara bersama-sama. Metode ini memang baik untuk memberikan pemahaman tentang faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam berpidato. Namun, dalam hal praktik tentunya siswa menampilkan hanya sebatas pengetahuannya saja. Kecuali bila siswa memiliki pengalaman lomba berpidato atau memiliki jabatan ketua pada suatu organisasi yang sering diminta untuk berpidato. Bagi siswa yang belum memiliki pengalaman yang cukup mengenai pidato maka sangatlah perlu siswa tersebut melihat sebuah contoh dalam berpidato. Dalam hal inilah seorang guru harus memberikan sebuah model yang dapat dipelajari oleh siswa. Model itu dapat dilakukan oleh guru ataupun selain guru.
Seperti pendapat Albert Bandura dalam teori sosial learning yang menyatakan bahwa proses belajar dimulai dari meniru, maka dalam belajar berpidato alangkah baiknya bila siswa mencontoh pemidato yang baik. Dengan contoh ini siswa akan mendapatkan gambaran mengenai cara berpidato yang baik. Contoh ini dapat dijadikan model dalam pembelajaran berpidato.
Media merupakan alat komunikasi dalam pendidikan. Media pendidikan menjadi alat bantu untuk menyampaikan pesan yang diberikan oleh guru kepada siswa. Penggunaan media tidaklah asal saja tetapi harus dengan pertimbangan bahwa penggunaan media tersebut sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Jangan sampai media yang telah dipersiapkan tidak sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.
Dengan bantuan media, proses dan hasil pembelajaran diharapkan menjadi lebih baik jika dibandingkan tanpa menggunakan media. “Media tidak terbatas hanya pada alat saja secara luas media bisa termasuk manusia, benda ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan.” Menurut Syaiful Bahri dan Aswan Zain, “sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang” , media inilah yang dapat membantu memperkaya wawasan siswa dalam belajar.
Dalam proses pembelajaran, model merupakan media yang dapat dijadikan sumber untuk belajar. Model ini dapat dicontoh dan dikembangkan oleh siswa. Oleh karena itu, media bisa pula guru atau model yang diberikan di luar pihak guru, seperti model dalam berpidato yang telah disebutkan sebelumnya.
Mengenai model mana yang harus dipilih kita harus melihat kualitas model itu sendiri. Sesuatu yang akan dijadikan model diusahakanlah yang terbaik karena akan dicontoh dan mungkin dikembangkan oleh siswa setelah mengamati model tersebut. Dalam model untuk berpidato beberapa hal pokok yang wajib menjadi kriteria, yaitu kemampuan linguistik, kemampuan mempersuasi, dan kemampuan memotivasi. Ketiga hal tersebut terangkum dalam ilmu retorika.
E. Manfaat Retorika dalam keseharian
Motivator bisnis merupakan salah satu profesi yang menggunakan ilmu retorika. Kemampuan retorika sangat berguna dan membantu untuk menunjang profesi ini. Tugas utama sebagai motivator bisnis ialah mampu mempersuasi para pendengar agar termotivasi untuk melakukan saran-saran yang diberikan olehnya. Layaknya seorang orator dalam sebuah kampanye, seorang motivator bisnis harus tampil dengan percaya diri dan mampu meyakinkan pendengarnya dengan sikap dan kata-kata yang diungkapkannya. Dengan kriteria ini seorang motivator bisnis merupakan model yang layak untuk pembelajaran berpidato karena dengan predikatnya sebagai seorang ”motivator” maka tentunya ia harus memiliki kriteria-kriteria tersebut.
Pemodelan retorika motivator bisnis ini berlaku sebagai media pada saat pembelajaran berpidato. Pemberian model yang baik akan mempermudah siswa dalam belajar. Dengan media, pemodelan retorika motivator bisnis ini diharapkan memberikan wawasan yang lebih baik kepada siswa untuk berpidato serta siswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam berpidato sehingga dapat meyakinkan pendengarnya.
Bicara merupakan bentuk komunikasi manusia yang paling mendasar, yang membedakan kita sebagai suatu spesies. Meskipun setiap hari kita berbicara, dan sepantasnya kita berlatih agar dapat bicara lebih baik. Alasannya sederhana, jalan menuju sukses, baik di bidang sosial maupun prefesional, biasanya dapat dilalui dengan bicara. Bicara merupakan salah kenikmatan hidup terbesar, satu hal yang terpenting adalah mau berbicara. Banyangkan saja dalam sehari kita dapat berapa banyak mengucapkan ribuan kata. Mengapa kita tidak mengembangkan keterampilan bicara dan menjadi pembicara terbaik.
Bicara itu seperti bermain golf, mengendarai mobil, atau seperti mengelola bisnis toko. Semakin sering melakukannya maka semakin mahir dan semakin merasakan senang. Tetapi kita harus mengetahui dasar-dasarnya, demikian juga dengan berbicara yaitu dasar-dasar percakapan yang berhasil antara lain: kejujuran, sikap yang benar, minat terhadap orang lain, dan keterbukaan terhadap diri sendiri dan orang lain.
Untuk sebagian orang seperti penyiar radio, penyiar tv, motivator, dll, merupakan pembicara yang bekerja dengan mengembangkan keterampilan berbicara. Sehingga berbicara bisa jadi sebagai sumber penghasilan.
F. Kesimpulan
Retorika sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen .
Berbicara pada dasarnya harus dimiliki oleh semua orang yang didalam kegiatannya membutuhkan komunikasi, baik yang sifatnya satu arah maupun yang timbal balik ataupun keduanya. Seseorang yang memiliki keterampilan berbicara yang baik, akan memiliki kemudahan didalam pergaulan, baik di rumah, di kantor, maupun di tempat lain. Dengan keterampilannya segala pesan yang disampaikannya akan mudah dicerna, sehingga komunikasi dapat berjalan lancar dengan siapa saja.
Pada saat pembelajaran berpidato.diperlukan pemodelan retorika motivator bisnisdapat sebagai mediaDengan media, pemodelan retorika motivator bisnis ini diharapkan memberikan wawasan yang lebih baik kepada siswa untuk berpidato serta siswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam berpidato sehingga dapat meyakinkan pendengarnya.
G. Saran
Retorika itu sangat penting dalam kehidupan sehari – hari, dapat membuat kita mudah dalam berkomunikasi di depan umum atau antar personal
Untuk menjadi seorang yang pandai bicara, dibutuhkan latihan yang sistematis dan tekun.

Dasar Memahami Quran dan Hadits

"MANQUUL"
I. TA’RIF MANQUUL
Kata manquul (منقول) berasal dari bahasa Arab dalam bentuk “maf’uul bih” (atas “wazan” فَعَلَ-يَفْعُلُ) yang artinya; Sesuatu yang dipindahkan. Adapun kata asalnya (dalam bentuk “fi’il madhi”) adalah; “naqola” (نقل) yang artinya; Dia telah memindahkan.
Sedangkan menurut arti “ishthilah” (terminology keilmuan), manquul adalah; system pemindahan ilmu dari guru ke murid, maka yang dikatakan ilmu yang manquul adalah ilmu yang dipindahkan / transfer dari guru kepada murid.
Dengan kata lain manquul artinya adalah; berguru, yaitu terjadinya pemindahan ilmu dari guru kepada murid.
II. PERANAN MANQUUL DALAM KEILMUAN
Manquul menjadi tradisi keilmuan Islam yang terbukti sangat penting dalam hal penjagaan kemurnian agama Islam. Orang yang pertama-kali memperkenalkan sistem manquul dalam keilmuan Islam adalah Rasulullahi Saw sendiri, dengan sabdanya;
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- : تَسْمَعُونَ وَيُسْمَعُ مِنْكُمْ وَيُسْمَعُ مِمَّنْ سَمِعَ مِنْكُمْ.
Dari Ibnu Abbas dia berkata, Rasulullah Saw bersabda : Kamu sekalian mendengarkan, dan didengarkan dari kamu sekalian, dan didengar dari orang yang mendengarkan dari kamu sekalian”. HR. Abu Dawud : 3661 Shohih
Selanjutnya penyampaian ilmu dengan system manquul ini menjadi tradisi Salafus Shalih (para sahabat, tabiin dan tabiit tabiin) sebagaimana yang dapat kita jumpai penjelasan dari pengantar al-Qur’an terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh “Khadim al-Haramian” kerajaan Saudi Arabia, dlm penjelasan mengenai sumber pertama dari penafsiran al-Quran pada periode Mutaqaddimin (golongan awal) adalah;
{Perkataan, perbuatan, taqrir dan jawaban Rasulullah Saw terhadap soal-soal yang dikemukakan para sahabat apabila kurang atau tidak dapat memahami maksud suatu ayat al-Qur’an, tafsiran yang berasal dari Rasulullah ini disebut “Tafsif Manquul”.} Lihat; Muaqaddimah, Al-Qur’an al-Karim Wa Tarjumatu Ma’anihi Ila al-lughati al-Indonesiyah : 26.
III. PERANAN SANAD DI DALAM SISTEM MANQUUL
Dalam ilmu Hadits, yang dikatakan “manquul” Hadits, berarti belajar Hadits dari guru yang mempunyai isnad (sandaran guru) yang sambung-bersambung hingga Rasulullah Saw. Isnad atau juga dikenal dengan istilah “sanad” memainkan peranan yang sangat penting dalam system manquul, kerana melaluinya maka Hadits-hadits Nabi Saw. dapat dijaga dari pemalsuan atau pendustaan, penambahan ataupun pengurangan, sebab pada pertengahan kurun kedua, yaitu setelah memasuki zaman fitnah, marak kejahatan pemalsuan Hadits-hadits Nabi Saw;
Kejahatan ini terjadi disebabkan setiap golongan berusaha mempertahankan golongan mereka. Melihat fenomena yang menghawatirkan ini, para ulama Hadits mengadakan kajian sanad, Ibn Sirin berkata;
لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوا : سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ.
Tidaklah mereka (para sahabat) bertanya tentang sanad, namun ketika telah terjadi fitnah (peperangan sesama umat Islam), mereka berkata : sebutkan kepada kami rijal (sanad) kamu, jika dilihat rijalnya dari golongan ahli Sunnah, maka diambil hadits mereka, jika dilihat rijal mereka dari golongan ahli bid'ah, maka tidak diambil hadits mereka. Muslim Al-Muqaddimah : 1/11.
Saking pentingnya sanad sehingga salah satu ahli Hadits yakni Abdullah bin Mubarak menyatakan;
الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ.
Isnad itu adalah bagian dari agama, kalaulah tanpa isnad, pastilah setiap orang berkata mengikut kehendaknya. Muslim Al-Muqaddimah : 1/12.
Sufyan bin Uyainah berkata;
حَدَّثَ الزُّهْرِيُّ يَوْمًا بِحَدِيثٍ، فَقُلْتُ : هَاتِهِ بِلاَ إِسْنَادٍ، فَقَالَ الزُّهْرِيُّ : أتَرْقَى السَطْحَ بِلاَ سُلَّمٍ ؟
Suatu hari al-Zuhri menyampaikan hadith, maka aku berkata : Sampaikanlah (manquulkan lah) Hadits itu tanpa (menyebut) Isnadnya. Jawab Zuhri : Apakah kamu bisa menaiki bumbung tanpa menggunakan tangga.? Muslim Al-Muqaddimah : 1/12.
Para ulama mengkaji setiap Hadits yang sampai kepada mereka melalui sanad. Setiap Hadits diteliti oleh para ulama, yang dengannya dapat dikenal pasti adakah Hadits itu shahih atau dhaif, bahkan maudhu’ (palsu) atau tidak ada asal baginya (لا أصل له). Para ulama yang mendengar Hadits akan merujuk kepada sanad Hadits tersebut.
IV. 8 SISTEM MANQUUL YANG DIKENAL DALAM ILMU HADITS
Di dalam kajian Ilmu Hadits ada 8 cara manquul yang diakui oleh para ulama, yaitu; As-Sama’, al-Qiraah ala as-Syaikh, al-Ijazah, al-Muanawwalah, al-Mukatabah, al-I’lam, al-Washiyyah dan yang terakhir adalah al-Wijadah, adapun penjelasan ringkasnya sebagai berikut:
1. As-sama’ Min lafzh as-Syaikh (السمع من لفط الشيخ)
Penerimaan Hadits atau ilmu dengan cara mendengar langsung dari guru yang mendiktekan dari hafalannya atau catatannya, cara seperti ini oleh mayoritas ulama’ dinilai sebagai cara yang paling tinggi kualitasnya.
2. Al-Qira’ah ala as-Syaikh (القراءة على الشيخ)
Adalah murid atau temannya (sesama murid) membacakan Hadits atau ilmu yang akan dipelajari di hadapan guru yang menyimak melalui hafalan atau catatannya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh imam as-Syafii ketika manquul Kitab Muwattha’ kepada imam Malik, atau imam an-Nasa’i ketika manquul dari guru yang membenci beliau, yaitu Harits bin Miskin.
Catatan : Al-Qiraah ini juga disebut dengan istilah al-ardh (العرض).
3. Al-ijazah (الإجازة)
Guru memberikan izin kepada seseorang (murid) untuk meriwayatkan (menyampaikan) ilmu yang ada pada guru, dengan berkata; Anda saya beri ijazah (kewenangan) untuk meriwayatkan Hadits shahih al-Bukhari.
4. Al-munawalah (المناولة)
Cara munawalah adalah guru memberi kitab Hadits kepada muridnya, atau si guru menyuruh murid agar menyalin kitab darinya, ada dua jenis munawalah, yaitu;
1. Al-Munawalah al-maqrunah bil ijazah, yaitu; Munawalah disertai dengan ijazah, cara seperti ini sama dengan cara ijazah.
2. Al-munawalah al-maqrunah al-Mujarradah, yaitu; Munawalah yang tidak disertai dengan ijazah contohnya seorang guru berkata kepada muridnya; Ini Hadits yang telah saya dengar, sang guru tidak menyatakan pernyataan agar murid meriwayatkan Hadits tersebut.
Catatan; Yang dianggap sah dalam penyampaian Hadits adalah munawalah disertai ijazah.
5. Al-mukatabah; (المكاتبة)
Guru menulis Hadits yang diriwayatkannya untuk diberikan kepada orang (murid) tertentu, yang saat penulisan tersebut bisa jadi ada di hadapan guru atau di tempat lain. Kalimat yang digunakan antara lain adalah;
6. Al-I’lam (الإعلام)
Guru memberi tahu kepada murid akan adanya Hadits yang pernah diterimanya dari gurunya, tanpa disertakan penjelasan secara detailnya.
7. Al-Wasiyyah (الوصيىة)
Guru mewasiatkan kitab Hadits kepada salah satu muridnya dengan tanpa pernah membacakannya secara langsung kepada murid.
8. Al-Wijadah (الوجادة)
Seseorang yang membaca kitab atau tulisannya orang lain dengan tanpa as-sama’ ataupun ijazah. Kalimat yang digunakan antara lain adalah;
Cara wijadah seperti ini oleh para ulama’ dianggap paling rendah kualitasnya bahkan seorang ahli Hadits yang bernama Ahmad Muhammad Syakir tidak membolehkan periwayatan dengan cara al-wijadah ini, menurutnya bila cara ini dibiarkan terus maka akan terjadi pemindahan riwayat (ilmu) secara dusta.
V. PENUTUP
Kita bersyukur kepada Allah Ta'ala..... Alhamdulillah, bahwa Abah (KH. Nurhasan Al Ubaidah) telah memperkenalkan dan mempraktekkan kepada kita system manquul, yang hingga kini masih tetap dijaga, dijadikan tradisi turun-temurun yang membuktikan bahwa kita ini sangat perduli akan kemurnian ilmu Quran dan hadits. Semoga Allah Ta'ala paring barokah..... Aamiin.