Jumat, 18 Desember 2015

Harta Menjamin Dunia dan Iman Menjamin Akhirat


Kekayaan bisa mendatangkan kebahagiaan, itu memang benar. Namun tak ada jaminan dengan kaya kita akan bahagia. Banyak orang yang memiliki harta berlimpah namun kebahagiaannya terenggut oleh kesibukannya mengumpulkan harta benda. Atau mereka kaya tapi rumah tangganya berantakan. Ada juga orang kaya tetapi tak bahagia karena diraih dengan cara tidak halal, lalu ia harus menjalani masa tua di jeruji besi karena ketahuan korupsi.
Mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya memang tidak salah gaes. Bahkan seharusnya kita mati-matian meraihnya. Setelah itu, jangan lupa, berbagi dengan sesama. Ada penelitian yang menyebutkan, seseorang akan merasa bahagia saat ia memberikan sebagian hartanya pada orang lain. Bahkan disebutkan, jaringan otak seolah bercahaya kala seseorang menyumbangkan hartanya. Dan tentu saja, hanya orang yang punya yang bisa menyumbang.
Penelitian lain memberikan kesimpulan bahwa kekayaan tak menjamin kebahagiaan. Dari University of Warwick dan Cardiff University, Inggris, melakukan penelitian mengenai hubungan kebahagiaan dan pendapatan seseorang. Ternyata seseorang yang memiliki pendapatkan Rp 1 miliar setahun tak merasakan bahagia ketika ia mengetahui tetangga atau temannya memiliki pendapatan lebih tinggi darinya.
Namun ada orang yang memiliki cara pandang berbeda saat melihat kekayaannya. Orang-orang ini adalah yang mensyukuri apa yang didapatnya. Mereka selalu membandingkan dirinya dengan orang lain yang kurang beruntung lalu mensyukuri apa yang diperolehnya. Orang-orang inilah, menurut penelitian itu, yang meraih kebahagiaan. Itulah pentingnya berpikiran positif.

Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” [HR Ibnumajah No 2132]
Kuncinya adalah kita mensyukurinya
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7)
DAN mengutaman kebahagiaan hakiki:



Kebahagiaan Hakiki
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Anas, Seringkali Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berkata, “Ya Allah, kehidupan yang menyenangkan itu hanya kehidupan akhirat“. Syu’bah berkata, Atau berkata, “Ya Allah tidak ada kehidupan bahagia yang hakiki kecuali kehidupan akhirat, maka muliakanlah kaum Anshar dan muhajirin“”. [HR Ahmad No. 12306]
Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Abu al-Tayyah, adh-Dhuba’i dari Anas Bin Malik berkata, saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda saat sedang membantu para sahabatnya membangun masjid, “Ketahuilah, kehidupan yang sarat kebahagiaan hanyalah kehidupan akhirat. Maka mintalah ampun untuk kaum Anshar dan muhajirin.” [HR Ahmad No. 12385]

So gaes !!

Memiliki kekayaan sebanyak apapun tidak menjamin kebahagiaan gaes, apalagi jika memperolehnya dengan melanggar hukum alam, hukum negara serta mengorbankan nama baik diri sendiri dan keluarga. Menjadi kaya itu tidak salah, tapi usahakan untuk menjadi orang kaya yang bahagia. Mari syukuri apa yang kita dapat dan tetap semangat dalam berkarya dan berikhtiar dengan cara yang positif, baik, dan halal. Keya tetapi jika diisekeliling kita kekurangan berarti kita tidak Kaya. misal saudara, tetangga dan disekeliling kita tempat tingggal masih kekurangan. KAYA adalah hidup mampu bersyukur menerima ketentuan Tuhan dan dengan harta kita bisa membahagiakan oranglain.

"if the only prayer you said was thanksyou that wolud be enough"

Jika satu satunya doa yang Anda katakan adalah thanksyou Anda akan merasa cukup

Konsep Kebahagiaan


Secara etimologi kebahagiaan berarti keadaan senang, tentram; terlepas dari segala yang menyusahkan.sehingga, kebahagiaan adalah suatu keadaan yang berlangsung, bukanlah suatu perasaan atau emosi yang berlalu. 
Kebahagiaan berasal dari kata Sanskerta, yaitu bhagya yang berate jatah yang menyenangkan. Bahagian juga diartikan dengan keberuntungan. Dengan demikian,kebahagiaan berarti suatu kondisi sejahtera, yang ditandai dengan keadaan yang relative tetap, dibarengi keadaan emosi yang secara umum gembira, mulai dari sekedar rasa suka sampai dengan kegembiaraan menjalani kehidupan, dan adanya keinginan alamiah untuk melanjutkan keadaan ini. Dalam perspektif ini bahagia pada dasarnya adalah berkaitan dengan kondisi kejiwaan manusia.
Menurut Aristoteles, kebahagiaan itu dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu :



  • Pertama, kebahagiaan yang terdapat pada kondisi sehat badan dan kelembutan indrawi. 
  • Kedua, kebahagiaan karena mempunyai sahabat.
  •  Ketiga, kebahagiaan karena mempunyai nama baik dan termasyhur.
  •  Keempat, kebahagiaan karena sukses dalam berbagai hal.
  •  Kelima, kebahagiaan karena mempunyai pola piker yang benar dan punya keyakinan yang mantap. 
Dengan tercapainya kelima hal ini, menurut Aristoteles barulah manusia akan mencapai bahagia yang sempurna.
Sedangkan bagi filosof sebelum Aristoteles, seperti Phytagoras, Sokrates dan Plato, kebahagiaan hanya bias dicapai oleh jiwa saja. Oleh karenanya, ketika mengklasifikasikan bahagia mereka hanya membatasi pada fakultas-fakultas jiwa saja; seperti kearifan, keberanian, kesederhanaan dan keadilan. Kebahagiaan hanya akaan berkurang jika manusia mempunyai pikiran yang lemah. Dengan demikian, kemiskinan, nama baik, wibawa ataupun kekurangan lain diluar badan tidak akan merusak nilai kebahagiaan.
Jika diikuti konsepsi ini tentu akan menjadi persoalan yang cukup rumit, karena bagaimanapun juga tubuh adalah bagian dari diri manusia, begitu juga dengan lingkungan akan berpengaruh terhadap pola hidup manusia. Oleh sebab itu, pada dasarnya kesempurnaan bahagia itu akan tergantung juga pada kesempurnaan badan dan hal-hal yang berada diluarnya, sebagai factor pendukung.
Dari uraiana diatas, terlihat bahwa pada prinsipnya kebahagiaan tidak berada diluar badan, tapi berada di dalam diri manusia, yaitu dengan memungsikan potensi yang dimilikinya, melalui sarana-sarana yang menjadi objek pikiran. Artinya, untuk tercapainya bahgia sangat tergantung kepada cara manusia itu menyikapi hidup ini, bukan bagaimana hidup memberlakukan manusia. Namun, kebahagiaan di atas baru sebatas kebahagiaan duniawi dan defeniasi bahagia itu sendiri sukar untuk dirumuskan secara utuh karena ia terkait dengan orang atau subjek yang menjelaskannya.



KEBAHAGIAAN MENURUT PEMIKIR ISLAM


1. Ibn Maskawaih
Terlebih dahulu membuat perbedaan antara kebaikan dengan kebahagiaan. Menurutnya, kebaikan itu sifatnya umum, dan merupakan tujuan dari sesuatu sedangkan kebahagiaan merupakan akhir dari kebaikan, dalam kaitannya dengan pemiliknya dan merupakan kesmepurnaan bagi pemiliknya. Sehingga ia bersifat relative berbeda menuut orang yang mengupayakannya dan esensinya tidak pasti.
Dengan demikian, menurut Ibn maskawaih, kebahagiaan adalah kebaikan yang paling utama dan sempurna diantara seluruh kebaiakn serta menjadi tujuan akhir dari kebaikan.mengenai kebahagiaan sempurna, Ibn Maskawaih berpendapat bahwa bahagia sempurna atau tertinggi dapat diraih ketika manusia dapat menyatukan antara kebutuhan jasmani dan ruhaniyah—yang dia istilahkan dengan alam rendah dan alam tinggi.
Namun jika tidak mencapai dari dua tingkatan itu makan manusia berada pada derajat binatang, karena kebaikan itu tidak ada pada binatang dan ia tidak diberikan kemampuan mencapai tingkatan-tingkatan itu, sedangkan manusia diseur dan diberi bekal untuk itu, tetapi manusia lebih suka kepada hala-hal yang lebih rendah. Oleh karena itu, kebahagiaan manusia itu ada yang sempurna dan ada yang tidak.
Menurutnya, seseorang dapat mencapai kebahagiaan di dunia ini apabila mempunyai sifat sebagai berikut : tidak keberatan berpisah dengan yang dicintainya di dunia; tidak bersedih hati karena tidak mendapat kesenangan duniawi; memandang tubuh, harta dan semua kenikmatan duniawi tidak lebih dari sekedar beban duniawi , kecuali jika dibutuhkan untuk menjaga badannya; rindu berkumpul dengan ruh-ruh yang baik dan para malaikat terpilih; tidak melalkukan sesuatu kecuali jika dikehendaki Allah; memilih sesuatu yang akan mendekatkannya dengan Allah; tidak terjerat dengan tipu daya hawa nafsu; tidak berduka lara atas kegagalannya memenuhi keinginannya. 

Menurut Mulyadi Kartanegara—salah seorang doctor di bidang filsafat lulusan Universitas Chicago—berdasarkan anilisisnya terhadap karya-karya Ibn Maskawaih, menyimpulkan bahwa terdapat lima macam jenjang kebahagiaan yang diperoleh dan dirasakan manusia. 
  • Pertama, jenjang kebahagiaan fisik atau sensual, yang biasa disebut dengan kesenangan, kebahagiian jenis ini sering dipandang sebagai satu-satunya kebahagiaan. Oleh karena itu sering keluar ungkapan “kalau sudah kaya she pati kita bahgia”, dan yang dimaksud kaya disini adalah kaya harta atau materi. 
  • Kedua, jenjang kedua adalah kebahagiaan mental, kebahagiaan yang mungkin barangkali tidak bisa dilepaskan dari indra lahir, tetapi uamanya tentu indra batin. 
  • Ketiga, jenjang kebahagiaan intelektual, yaitu kebahagiaan manusia yang diperoleh dari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, selama kita memiliki ilmu, selama itu pula kita merasakan kebahagiaan.
  •  Keempat, jenjang kebahagian moral, yaitu kebahagiaan yang diperoleh dari mengamalkan ilmu pengetahuan. Dari sudut moral, orang baik adalah orang yang telah memiliki perilaku baik, dan bukan hanya mengetahui perilaku baik itu terpuji. Artinya, pada manusia yang berbahagia itu bukan saja manusia yang mengetahui jalan kebaian; jalan hidup yang baik melainkan juga menjlankann hidup yang baik itu.
  •  Kelima, kebahagiaan spiritual, merupakan kenahagiaan yang akan tercapai bila manusia telah berhasil mengadakan kontak dengan Ilahi. 
2. Al-Ghazali
Dalam mewujudkan kebahagiaan, Al-Ghazali menekankan pentingnya arti cinta kepada Allah. Pengetahuan tentang Tuhan merupakan kunci untuk mencintai Allah kareana tidak mungkin lahir cinta kalau tidak merasakan indahnya berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan.
Dalam hal ini dapat diilustrasikan bahwa orang akan bernahagia apabila dapat beekenalan dengan raja. Hal itu, karena raja mempunyai kekuasaan yang besar dalam masyarakat dan dirinya sendiri sehingga timbullah rasa simpatik terhadapa raja. Tetapi ia akan lebih merasa bahagia apabila dapat berkenalan dengan rajanya segala remaja, maka tentu saja perkenalan itu berbeda bagi orang yang selalu dekat denga raja dengan orang yang berjauhan dengan raja.bagi yang dekat dengan raja tentu akan lebih mencintai rajanaya daripada yang berjauhan, sekalipun raja itu berpengaruh padanaya.
Begiru juga dengan cinta kepada Tuhan, bila manusia telah berkenalan dengan-Nya dan berpengaruh dalam batin, maka inilah yang dikatakan Al-Ghazali bahwa “ia sendiri sajalah yang pantas untuk dicintai, tetapi bila seseorang tidak mencintai-Nya, maka hal itu disebabkan karena ia tak mengenali-Nya”. 
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bahagia menurut Al-Ghazali akan dapat dicapai apabila manusia sudah bisa menundukkan nafsu kebinatangan dan setan dalam dirinya, dan menggantinya dengan sifat malaikat. Sedangkan kebahagiaan tertinggi menurut Al-Ghazali adalah ketika manusia telah terbuka hijabnya dengan Allah, ia bisa melihat Allah dengan mata hatinya, atau dalam bahasa Al-ghazali telah sampai kepada tahap ma’rifatullah.


Sedangkan menurut Yusuf Musa sebagaimana yang dikutip oleh SY Datuk Perpatih, kebahagiaan menurut Al-Ghazali dapat dikelompokkan kepada empat tingkatan, yaitu :
1. Kebaikan atau keutamaan jiwa yaitu: ilmu, hikmah, iffah (dapat menjaga kehormatan diri), berani dan adil.
2. Kebaikan atau keutamaan tubuh ada empat, yaitu : sehat, kuat, jamal (indah), dan panjang umur.
3. Kebaikan yang dating dari luar ada empat pula, yaitu : harta, keluarga, terhormat dan mulia keturunan.
4. Kebaikan atau keutamaan taufik ada empat, yaitu : hidayah Allah, Pimpinan Allah, bimbingan Allah, dan bantuan Allah. 
Adapun jalan untuk mencapai kebahagiaan hakiki menurut Al-Ghazali melalui ilmu dan amal. Ilmu ialah untuk menentukan apa-apa yang harus diersiapkan dalam mencapai bahagia hakiki yang dimaksud, sedangkan amal adalah berguna untuk membersihkan jiwa dari keinginan-keinginan duniawi yang dapat memalingkan manusia dari kebahagiaan tersebut.
Kedudukan manusia di tengan-tengah masyarakat dinilai dari tingkat ilmu yang dimilikinya; orang-orang yang berilmu akan lebih terhormat dan dihargai dibandingkan orang-orang yang kurang atau tidak berilmu sama sekali. Ayat-ayat Al-qur’qn sendiri memberikan penghargaan dengan memandang mulia orang yang berilmu dibandingkan dengan orang yang kurang berilmu, seperti yang terdapat dalam Surat al-Mujadillah : 11
…… ……. 
Artinya : “… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…..” (QS. Al-Mujadillah : 11)
Jalan kedua untuk memperoleh bahagia adalah dengan amalan; amal merupakan buah dari ilmu itu sendiri. Hal itu tentu saja sesuai dengan pandangan al-Qur’an sendiri bahwa amal shaleh merupakan mata rantai dari keimanan dan bagi yang melaksanakannya akan memperoleh kebahagiaan, baik itu pria maupun wanita. Sebagaimana firman allah :
• • 
Artinya : “Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 97)